Sate, riwayatmu dulu !

Sate, menurutku adalah makanan yang spesial !

Saya tidak menulis tentang bagaimana cara bikin sate yang empuk, enak dan beraroma khas dari asap yang dihasilkan dari arang kayu pohon asam atau batok kelapa.

Saya menulis kenangan tentang sate ketika makanan itu menjadi sebuah makanan khusus untuk orang yang memiliki uang, setidaknya ketika jamanku masih kecil di tahun 80-an.

Setidaknya ketika Bapak (aku menyebut ayahku bapak) baru menerima gaji seorang PNS pada awal bulan, aku suka banget pada suatu sore disuruh untuk membeli sate dan gule, pesannya cukup beli sate 15 dan gule satu rantang. Perintah itu adalah perintah yang ditunggu setiap bulan olehku, begitu menyenangkan dan menggembirakan.

Kalau membaca tulisan ini pada saat sekarang, mungkin kalian heran, apakah senangnya disuruh beli sate…..

Untuk itulah tulisan ini tujuannya hanya untuk mengenang, ketika rakyat Indonesia tahun 80-an, taraf ekonominya masih dalam taraf dalam tataran yang cukup sederhana (mau tulis miskin, takut ada yang marah). Saya tidak tahu berapa gaji bapakku saat itu sebagai PNS, tapi setahuku secara rata-rata didesaku yang rata-rata sebagai petani atau penggarap di tepi Gunung Welirang, orang jarang sekali untuk jajan makanan atau minuman diluar. Kita makan apa yang dimasak ibu dirumah. Masakan sederhana yang kadang – kadang memanfaatkan kekayaan alam sekitar, demi menghemat uang gajian.

Masih jarang orang yang berjualan seperti saat ini. Daya beli masyarakat rupanya belum mengairahkan untuk pedagang asongan seperti saat ini. Mungkin hanya masyarakat di kota kabupaten saja yang ada. Di kota – kota Kecamatan masih belum ramai para pedagang kaki lima,meski ada beberapa pasar rakyat saja ada, tapi jumlahnya terbatas.

Baca juga ...  Merasakan gurihnya ikan gabus ala desa

Ketika disuruh beli sate, aku biasanya mengajak adikku atau kakak sepupuku untuk membeli sate di warung sate yang berjarak sekitar 3 kilometer dari rumah dengan naik sepeda. Ditempatku kalau orang beli sate, disebut sebagai nasi sate, terdiri dari sepiring nasi, gule dan sate 5 tusuk yang disajikan dalam satu piring, bukan disajikan terpisah seperti saat ini. Semua tercampur dalam satu piring. Berbeda dengan apabila kalau beli lauknya saja kita tinggal bilang beli berapa tusuk dan gulenya berapa.

Biasanya aku beli sate pada sore hari, dan ketika waktu ngaji sebelum Magrib, pasti bertemu dengan teman-teman. Kebiasaan kita kalau habis makan sate adalah dipamerkan kepada teman-teman dengan cara meniupkan udara mulut kita supaya mereka tahu kalau kita habis makan sate. Aroma sate akan memberi sensasi rasa cemburu pada mereka. Itulah yang menjadi tradisi teman-temanku didesaku. Sate begitu istimewa karena setiap orang jarang memiliki kesempatan untuk menikmatinya pada saat itu.

Kita dapat kesempatan berpesta sate pada saat Hari Raya Idul Adha. Setiap orang mendapatkan jatah daging yang bisa disate disetiap rumah. Hari itu adalah hari sate. Bahkan pada saat sekarangpun saya merasa senang untuk mengikuti tradisi itu. Idul Adha memberikan kegembiraan baik untuk si kaya atau si miskin.

Kenangan itulah yang membuat saya miris dengan pola hidup anak-anak sekarang. Ketika daya beli rumah tangga masyarakat meningkat, makanan bukan menjadi sesuatu yang menarik. Anak – anak sekarang lebih suka apakah PUBG sudah mendapatkan update, kira – kira ada fitur apa yang ditambahkan. Kehidupan modern menjadi lebih hambar bagi kita. Di tempat-tempat pertemuan diruang publik, orang jarang untuk saling berbicara, tetapi lebih suka untuk memainkan gadget masing – masing.

Baca juga ...  Bagaimana menghapus Grub di Windows 10