Misteri Api Neraka di Tunguska

Tanggal 12 Pebruari 1927, Kulik dan asistennya, utusan Museum Minerologi Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, tiba di Tajset. Mereka telah menempuh sekitar 4800 km daratan Siberia, dari Leningrad. Kini, walau sudah hampir se utara dengan Eslandia, mereka masih juga berada sekitar 650 km di selatan tujuan.

Letak Tunguska, berada di tengah-tengah dataran Siberia, wilayah Rusia saat ini

Pertengahan bulan Maret, sebuah ekspedisi kecil berkuda berangkat dari Tajset, melintas padang bersalju. Tanggal 19, mereka mencapai Kezma, beristirahat beberapa hari sambil mengumpulkan persediaan dan informasi sebelum berangkat kembali. Dan tanggal 25 Maret, mereka sampai di Vanara, dipinggir sungai Podkamennaya Tunguska. Vanara perkampungan amat kecil, cuma terdiri dari beberapa rumah kayu. Tempat ini semacam pos dagang, tempat orang Tungus, pribumi setempat memperdagangkan bulu – bulu binatang yang mereka perangkap atau buru. Disini, 4 petunjuk jalan bergabung dengan rombongan Kulik. Setelah 2 minggu istirahat, rombongan kembali menjelah padang Siberia yang tersohor itu. Barang – barang dimuat di atas rusa kutub (reindeer). dua hari kemudian, tak ada lagi jejak jalan, mereka harus menerobos hutan Siberia. Kampak tak jarang digunakan untuk membabat pepohonan lebat yang menghadang.
Leonid Kulik, melakukan ekspedisi pertama ketika terdengar adanya keanehan di Tunguska

Tanggal 13 April, mereka telah mencapai sisi daerah bencana itu. Disini, Okchen salah seorang penunjuk jalan itu, membangkang melanjutkan perjalanan. Persediaan tak cukup lagi, kata dia, yang dengan susah payah dibujuk Kulik untuk melanjutkan perjalanan. Orang Tungus menganggap daerah itu keramat, daerah menarinya api neraka, tempat dimana pegunungan luruh berderai. Di kaki mereka, kini berserakan sisa tak terbilang batang pohon, yang semua, anehnya menunjuk ke arah selatan. Keadaan sunyi, senyao tanpa kehidupan, membuat mereka bergidik.
Dua hari kemudian, mereka mencapai ujung daerah yang terbakar itu. Dan aneh : kulit pepohonan itu jelas tampak gosong, tapi bagian dalamnya sama sekali tak tersentuh api. Pepohonan itu tampaknya tiba – tiba di sengat kilatan api yang sangat dahsyat. Hari itu juga, Kulik mendaki sebuah bukit, dan mencatat apa yang dilihatnya di buku hariannya: “tak ada lagi tanda – tanda hutan, semuanya hancur terbakar dan disekeliling daerah mati ini, pepohonan baru berusia 20 tahun berebutan mencari cahaya  dan kehidupan. Aneh, rasanya, melihat batang – batang pohon selebar 1 meter bertumbangan seperti patahan korek api. Terhempas sejauh beberapa meter ke arah selatan.
Pohon – pohon di Tunguska bertumbangan yang jatuh searah

Sekali lagi, para penunjuk jalan membangkang melanjutkan perjalanan. Persediaan hampir habis dan yang meresahkan, kini sudah pertengahan April yang kian hari semakin panas. Ketika datang rombongan menyeberang banyak sungai beku, dan dengan datangnya musim semi, sungai – sungai itu akan mencair sehingga akan sulit diseberangi. Terasing dalam kesunyian luasnya Siberia, terhengkang oleh bencana sekeliling yang mengerikan, mereka memutuskan untuk kembali ke Vanara.
Akhir April rombongan itu kembali meninggalkan vanara. Semi telah tiba dan sungai mencair melimpah ruah. Kulik mencapai jalan lain. Di darat mereka melanjutkan perjalanan dengan kereta luncur, sampai tibas di sungai Camba. Disini mereka berkemah sebentar dan minggu berikutnya, sibuk menebang pohon dan membuat rakit.
Awalnya mereka menuju ke hilir, sepanjang sungai Camba, perjalanan sulit, banyak rintangan : sungai bergelombang es yang hanyut ke bawa arus. Satu malam, rakit yang memuat persediaan makanan hanyut, tapi untung bisa ditemukan kembali. Sampai Chusma, perjalanan mengarah ke hulu. Rakit – rakit ditarik kuda dari pinggir sungai. Tanggal 20 Mei 1985, mereka kembali mencapai batas luar daerah bencana itu.
Sepuluh hari kemudian, Kulik menemukan sesuatu yang amat penting. Selama ini, diseluruh daerah yang mereka lewati, pola bencananya sama : pohon – pohon yang bertumbungan itu mengarah ke selatan. Tapi, disini, serakan barang pohon itu mengarah ke utara. Pohon – pohon ini nampaknya bertumbangan akibat suatu daya ledakan, membentuk pola mirip jeriji-jeriji sepeda, dimana setiap pohon mengarah keluar daerah ledakan. Rupanya tanpa sengaja, romongan telah melewati pusat ledakan itu. Saat ini, kulik menulis : “persediaan makanan tinggal untuk 3 -4 hari. Perjalanan kami amat jauh dan melelahkan, dan pikiran satu satunya sekarang adalah untuk kembali dengan selamat. Keadaan benar – benar menyesakkan. Makan tinggal sisa, jarang ada binatang yang bisa diburu, cuma 3 atau 4 bebek bisa ditembak, dan sekali dua menangkap ikan. Tak ada jalan lain, kecuali mengeruk-ngeruk sisa makanan, dan pikiran melayang untuk menyantap juga persediaan terakhir…kuda. Untung semangat masih menyala, dan kami sampai di Podkamenaja Tunguska akhir bulan Juni, saat hujan musim panas mulai berderai.
Dah berakhirlah ekspedisi tahun 1927 itu.

Baca juga ...  Inggris di Jawa 1811-1816: Potret Pemerintahan Inggris dari Kacamata Orang Jawa

Meteor?

Kulik sedang meneliti, yang menurut keyakinannya, tempat jatuhnya meteor raksasa. Meteor – meteor kecil memang kerap kali menumbuk bumi. Ruang antar planet bahkan dipenuhi reruntuhan kosmik, dimana bumi berlahan mengarunginya selama orbit mengelilingi matahari. Meteor demikian, yang menembus atmosfir, bergerak amat cepat. Kecepatan yang 160.000 km per jam lumrah. Untungnya biasanya benda-benda yang menembus ini tak begitu berarti, cuma butir butiran kecil atau lepasan benda-benda padat. Kala menembus lapisan atas atmosfir, panas berpijar putih oleh gesekan, saat itulah kita melihatnya. Cahaya gemilang yang melintas angkasa beberapa saat yang kita sebut bintang jatuh. Jauh sebelum mencapai bumi,benda itu sudah habis terbakar, biasanya saat berada sekitar 80 km dari tanah. Beberapa berombongan memasuki atmosfir bumi, dan yang demikian kita sebut “hujan meteor”. hujan meteor Perseid setiap bulan Agustus, Leonid dalam bulan November, Geminid dalam bulan Desember. Hal semacam ini,sebenarnya cuma satu saat dari hujan kosmik yang tiada hentinya membombardir bumi kita, siang dan malam , tahun ke tahun. Tak terdengar, jauh di atas kepala kita, serpihan butiran kecil yang bergerak dengan kecepatan luar biasa itu hancur tercerai berai dan sisanya mengambang lembut menyelimuti kita. Atom, molekul, debu antariksa tiada henti sekaligus nyaris tak diketahui.
Kadang-kadang, tapinya bumi kita kemasukan pula benda yang lebih besar : satu yang cukup besar sehingga selamat dari lintasan berapinya di udara dan menghantam bumi. Tanggal 20 September 1938 terdengar bunyi keras dari halaman belakang sebuah rumah di Illinois, AS. Sebuah meteor menembus atap sebuah garasi, menembus atap mobil dan akhirnya jatuh di pangkuan kursi mobil itu. Tahun 1954, seorang wanita Alabama bahkan disambar meteor, satu satunya kejadian dimana seorang diketahui benar-benar terluka disambar meteor.
Yang paling jarang, dan paling mengerikan, adalah tumbukan dengan meteor – meteor raksasa. Benda – benda maut ini berbobot ratus ribu kilogram. Melaju dengan kecepatan 160 km perjam, ia begitu masif, sehingga atmosfir pun tak banyak memperlambat lajunya untuk menumbuk bumi dengan tenaga yang maha dahsyat. Terjadi ledakan luar biasa, membentuk kawah-kawah raksasa. Kawah meteor dekat Winslow, Arizona, adalah satu contoh, garis tengah selebar 1,2 km. Dalam 183m. sekitar 25 ton kepingan meteor berhasil diambil dari kawah itu, sampai saat ini. Kawah diperkirakan berusia sekitar 30.000 tahun.
Kulik beberapa kali kembali ke daerah Tunguska itu, tahun 1928,1929 dan 1939. foto – foto ekspedisi masa itu masih banyak tersimpan sampai saat ini. Cuma, tak ada satu pun yang menunjukkan adanya kawah. Karena memang tak ada kawah. Ledakan yang terjadi tahun 1908 itu terdengar sampai sejauh 950 km lebih, meratakan nyaris semua pohon dalam radius 80 km. Lagi pula pusat bencana itu mudah diketahui, karena semua pohon yang bertumbangan itu berjatuhan dengan arah menjauhi pusat. Dan dipusat itu, kini tak tampak adanya kawah, cuma rawa lumpur. Disisi rawa ini mengumpul beberapa pepohonan. Berdiri tapi mati, dan tak ada satu pun yang bercabang. Gunduk tanpa dahan dan ranting, apa lagi daun.
Batang pohon yang berdiri itu pulalah yang menjadi petunjuk penting. Jelas apapun yang menyebabkan ledakan luar biasa di Tunguska itu, pasti tidak menyentuh tanah. Kesimpulannya : semburan udara yang amat panas dan kuat luas biasa. Semburan udara yang amat panas dan kuat luas biasa. Semburan itu melesat jatuh vertikal, mencabik dahan – dahan pohon dari titik tumbukannya, dan menyebar horisontal ke segala arah, merobek dan menumbangkan nyaris semuanya.
Apapun penyebab semburan itu, bedanya pasti tak begitu besar, karena sudah habis sebelum mencapai tanah. Sebaliknya cukuo besar untuk menimbulkan bencana yang begitu mengerikan. Kedua ketentuan inilah yang memusingkan para ilmuwan, yang bertahun tahun mencari kemungkinan penyebabnya. Tapi ia tetap teka – teki, salah satu misteri terbesar astronomi.
Satu hal yang pasti tak mungkin disebabkan meteor. Sebab, meteor penyebab ledakan sedasyat itu pasti besar, dan akan meninggalkan bekas kawah raksasa akibat tumbukannya. Meteor kecil yang tumbukannya tidak meninggalkan bekas kawah tak akan mungkin mengakibatkan bencana mengerikan semacam itu. Sampai saat ini, lucunya, bencana itu tetap disebut Meteor Siberia Raksasa. Jelas pemberian nama yang salah.

Baca juga ...  Temuan Fosil terbaru mengungkapkan kecepatan menakjubkan Mamalia setelah Dinosaurus musnah

Antimateri : Satu Kemungkinan

Tahun 1932, seorang ahli fisika Amerika, Carl Anderson, menumukan satu partikel elementer baru dari rekaman foto sinar sinar kosmik. Masa partikel baru itu sama dengan elektron, cuma muatannya berlawanan. Ini belum mencengangkan, proton juga mempunyai muatan listrik yang berlawanan dengan elektron (walau massanya berbeda). kejutannya adalah ketika Anderson meneliti reaksi partikel baru itu. Bila menyentuh elektron, keduanya akan lenyap sama sekali, sambil melepaskan sekilatan energi murni kuat. Proton tak berakibat begitu bila menyentuh elektron.
Fenomena itu disebut “saling memusnahkan”, dan partikel Anderson disebut antielektron atau positron. Ditahun tahun kemudia, ditemukan pula anti partikel lainnya. Antiproton, antinetron. Masing – masing mempunyai masa yang sama dengan kembarannya (partikel biasa), tapi muatannya berlawanan. Dan semuanya mempunyai sifat memusnahkan itu. Reaksi saling memusnahkan ini, merupakan sumber energi paling efesien yang diketahui, karena seluruh massa dari kedua partikel diubah menjadi energi murni.
Proton biasa dan eletron biasa tidak saling memusnahkan, tapi membentuk atom yang paling sederhana, yaitu hidrogen. Antiptoton dan anti aelektorn juga tidak saling memusnahkan, tapi juga tidak membentuk hidrogen. Yang terbentuk adalah antihidrogen, yang anehnya mempunyai sifat identik hidrogen. Antihidrogen memiliki spektrum, reaksi kimia dan struktur yang sama dengan hidrogen. Bedanya kalau ia ketemua dengan hidrogen, keduanya akan lenyap diiringi sekilatan energi.
Satu atom antioksigen, dihubungan dengan 2 atom antihidrogen, akan membentuk satu molekul antiair. Antiair itu, bila berkumpul menjadi satu, bisa membentuk selautan antiair alias antisamudra. Antisamudra ini identik dengan samudra kita, bentuknya sama, juga berkialauan di bawah sinar matahri dan mendidihnya pun pada suhu yang sama dengan air biasa. Didiami oleh antiikan dan antikapal, anda tak akan bisa membedakannya dengan biasa, sampai anda nyemplung, molekul molekul air di badan anda dan masa setara dari antiair itu akan menimbulkan ledakan maha dasyat yang membuat bom hidrogen mainan anak-anak. Begitu dasyatnya ledakan itu!.
Tahun 1965, Cyle Cowan, CRnAtluti dan WF Libby mengusulkan teori : bencana Tunguska disebabkan oleh antimateri yang jatuh menumbuk bumi dari antariksa, yaitu antimeteor. Begitu dasyatnya reaksi saling memusnahkan ini, sehingga bongkahan anti meteor yang jatuh itu cukup seberat 0,5 kg saja. Jelas teori ini lebih bisa diterima ketimbang teori meteor tadi. Lagi pula, antimeteor itu pasti sudah ahncur sebelum menyentuh tanah. Maka itu tak menimbulkan kawah.
Cown, Atluri dan Libby pun kemudian menguji kebenaran teori mereka. Di pegunungan dekat Tucson, Arizona, ada sejenis pohon yang sudah berusia 300 tahun. Kadar karbon radioaktif pohon ini dianalisa. Karena reaksi saling memusnahkan itu pasti menyemburkan sejumlah karbon diaoksida radioaktif ke udara, maka mereka berharap menemukan peningkatan kadar iru diseluruh dunia berhubungan dengan ledakan siberia itu. Sayang, data yang berhasil mereka temukan tidak memperkuat, tapi juga tidak melemahkan teori mereka itu. Dan begitulah sampai kini, kemungkinan ledakan Siberia akibat antimeteor tetap terbuka, tapi tak pernah terbukti. (bersambung)