Masa depan jagad

Sisa ledakan bintang di rasi Taurus, Kabut Kepiting (Crab Nebula). Semua bintang masih akan mengakhiri hidup dengan meledak

Akhir akhir ini, ilmu fisika partikel mau tidak mau berjalan bergandengan dengan Astrofisika dan Kosmologi. Teori fisika Partikel mempelajari dinamika zarah pada suhu dan Kerapatan tinggi sekali. Keadaan ini umum terdapat pada sebuah bintang ambruk atau pada awal mula jagatraya kita. Jadi jagad dapat menjadi laboratorium pengujian teori fisika sejarah. Karena beberapa keadaan yang dituntut belum mampu dipenuhi laboratorium bumi. Misalnya, suhu 1000 triliun derajat. Dapatkah kita mewujudkannya?
Sebaliknya teori paduan quark (zarah dasar penyusun inti atom) dan elektron (zarah ringan bermuatan negatif seperti elektron dan muon) membuat kosmolog bisa lebih mengerti duduk persoalan terciptanya materi beberapa saat setelah jagad kita lahir. Kelihatannya perkawinan antara fisika partikel dengan Kosmologi akan segera berlangsung.
Ini bukan keinginan baru. Dasarnya, para Fisikawan donk kok semu le percaya zakat yang rumit namun Anggun sesungguhnya sederhana. Begitu sederhana, sehingga kita bisa menemukan suatu rumusan (teori terpadu) yang sekaligus menjelaskan materi, energy, ruang dan waktu.
Einstein adalah orang pertama yang punya gagasan itu: memadukan hukum hukum kosmis ! tapi ketika ia meninggal tahun 1955, ia toh masih belum berhasil. Mengapa ? karena Einstein enggan menoleh pada dunia renik : fisika zarah. Padahal pada tengah tahun 1920-an para Fisikawan sudah yakin akan adanya dua gaya lain yang ikut mengatur jagad. Kedua gaya itu adalah gaya kuat yang mengikat menjadi Proton dan Neotron, serta gaya lemah yang bertanggung jawab atas peluruhan radioaktif. Teori Paduan tentu harus mengikutisertakan kedua gaya ini, h
Einstein hanya terpaku pada gaya gravitasi dan elektromagnetik.

Supergravitasi

Untung impian di atas tak ikut terkubur. Bahkan kini hampir terwujud, tertuang dalam sederetan bersamaan elok Matematis bernama super gravitasi. Persamaan ini secara matematis betul mengungkapkan apa yang pernah ditulis harian New York puluhan tahun lalu:…perputaran planet, jatuhnya batu akibat gaya tarik bumi, kilauan permata, ringannya hidrogen serta beratnya timah, mengalirnya arus listrik pada seutas kawat, ketidakstabilan Radium, merupakan pengejawantahan sebuah gaya tunggal yang pernah hadir sekilas setelah peristiwa dentuman besar (big bang) namun cerai Berai manakala jagad memuai.
Super gravitasi menjembatani dua pilar raksasa dalam dunia fisika yang selama ini terpisah : gravitasi yang menjelaskan gejala dalam dunia makro, serta kuantum yang mewakilkan dunia sub atom.
Dalam laboratorium, saat ini kita bisa menyusuri masa lalu, kembali hingga sepertrilyun detik setelah dentuman besar. Memang sulit membayangkan waktu itu. Apa artinya tapi tempo sekilas itulah yang mengatur jagad sekarang dan Yang akan datang. Para Ali percaya saat itulah terjadi perpecahan terakhir kali, memisah kaya lemah dari gaya elektromagnetik. Jauh sebelumnya, pada umur sepersepuluh milyar trilyun triliun detik, gaya kuat juga ikut bergabung. Sayang sekali kemampuanku laboratorium bumi belum bis meniru bayi merah begitu muda.
Sisa sisa ke kesederhanaan jagad di masa lampau masih tertinggal, begitu menurut Fisikawan fisikawan kalau saja kita bisa mengamati gejala kehadiran zarah zarah aneh seperti nutrino, elektron dan gravitino.
Teori Paduan Agung memang memaksa kita mengakui kebenarannya. Dan para kosmolog, yang kurang puas hanya menoleh ke masa lalu, mencoba memanfaatkannya untuk meramalan masa depan kita. Orang awam boleh tertawa. Meramal jagad tinggal trilyunan tahun dari sekarang ? untuk apa ? paling tidak menentramkan hati, untuk mengetahui sampai sejauh mana penemuan mereka sejalan dengan kenyataan dalam jagad.

Baca juga ...  Perkiraan Terbaru Usia Bima Sakti

Model model jagad raya

Ada kenyataan penting yang tidak kita rasakan sehari-hari akibat dentuman besar : jagad memuai. Sehingga Galaksi bergerak saling menjauhi. Langsung muncul pertanyaan, apakah Galaksi akan selama lamanya menjauh? Kalau tidak, berarti satu saat  akan berhenti mengembang, serta merta diikuti peremasan kembali menjadi bola padat raksasa waktu dentuman besar.
Jawab pertanyaan mendebarkan ini ternyata ditentukan oleh jumlah materi yang mengisi zakat setiap satuan isi kita mengenalnya sebagai Kerapatan.
kalau kerapatan berharga 0,0027 zarah per liter, model jagad yang ada disebut jagad datar. Karena Kerapatan seharga itu merupakan kerapatan kritis. Di atas harga itu jagad kita akan ambruk, suatu saat akan berkumpul menjadi bola. Kita menyebutnya model jagad tertutup. Kalau Kerapatan lebih kecil daripada harga kritis, jagad dikatakan terbuka, karena jagad selamanya memuai dengan kecepatan pemuaian semakin menurun.
Apa yang menimpa jaga tertutup bila zakat Muleh menurut kembali ini ditelaah oleh Martin garis kosmolog Cambride. Ia mengatakan suhu radiasi akan meninggal tajam kalau ukuran jagad Menjadi seperseratus ukuran sekarang para astronom kalau masih ada yang hidup akan melihat seluruh langit terang benderang setiap saat seperti siang hari sekarang.
Kalau mengerut terus sampai ukurannya tinggal seperduaribu kali ukuran sekarang, Suhu radiasi melonjak menyamai radiasi Matahari, 6000 derajat. Tapi matahari sendiri sudah lama padam.
ratusan rinu tahun berikut, suhu menjadi jutaan derajat, bintang yang  menggelegakpun mulai meledak. Dalam beberapa minggu saja suhu menjadi semiliar derajat. Inti atom cerai atas Netron dan Proton. Semakin lama peremasan semakin cepat, suhu naik lagi sampai satu triliun derajat: Proton dan Neutron pun pecah menjadi penyusun dasarnya: quark. Seperpuluh ribu detik Berikut, suhu sudah luar biasa tinggi sedang kerapatannya 10 pangkat sembilan 3 g per sentimeter kubik. Apakah kita bisa melanjutkan cerita duka ini sampai tahap yang tak bisa lagi didefinisikan?
Teori Kenisbian einstein yang selama ini mampu melewati tahap Kerapatan tinggi, harus segera beralih ke teori super gravitasi. Ramalan page dan Randall mckee memperlihatkan Peluruhan ruang waktu, karena hubungan jarak dengan waktu tak berarti apa apa lagi.
Beberapa Kosmologi menduga jagad akan terikat lagi seperti mulanya. Berdentum lalu memuai. Ibarat sebuah mesin yang berdaur ulang, apakah jagad yang sekarang kita huni, merupakan kelanjutan dari sebelumnya?

Baca juga ...  Ternyata Orangutan memiliki kekerabatan langsung dengan Kera Raksasa 2 juta tahun lalu

Model Jagad Terbuka

Bagaimana masa depan jagad kalau pemuaian berlangsung tiada henti hentinya? Kita memang tidak mengalami pemanggangan oleh radiasi yang semakin panas. Kebalikannya semua bintang kehabisan bahan bakar dan mengkerut menjadi bintang kerdil (bintang tua seukuran bumi, yang sedang mengakhiri hidup), bintang netron (bintang tersusun oleh netron, berukuran beberapa km), atau menjadi bintang hantu (lubang hitam, sisa ambrukan bintang yang sangat padat sehingga mempunyai gaya tarik sangat kuat).

Data pengamatan astronomi menunjukkan sekarang ini kita sedang merasakan pemuaian jagad

Menurut teori paduan, proton akan meluruh setelah seratus juta trilyun trlyun tahun dalam sebuah sistem terdiri dari seratus juta trilyun trilyun proton, identik dengan massa air sebesat 160 ton ! berarti satu proton dalam tubuh kita mungkin meluruh selama kita hidup.
Setelah sepuluh juta trilyun tahun, sebagian besar bangkai bintang yang mengisi jagad mulai terlontar keluar galaksi. Yang tersisa melebur membentuk bintang hantu rasaksa bermassa milyaran kali masa matahari. Selama proton meluruh, bangka bintang yang terlempar keluar galaksi akan menerima hangat radiasi peluruhan. Bintang memang terus mendingin, jagad juga mendingin. Kecepatan pendinginan keduanya ternyata tidak sama, radiasi mendingin lebih cepat. Akibatnya muncuk ketidaksetimbangan termal, yang jelas-jelas bertentangan dengan hukum kedua termodinamika. Hukum ini mengatakan bahwa ketidakteraturan sistem terus bertambah sampai tercapai kesetimbangan termal.

Masa depan makhluk cerdas?

rasanya tak banyak berartu, belajar begitu banyaj tentang masa tua jagad kalau kita tidak mencari kaitanyya dengan manusia. Apakah kebiasaan berpikir terus hadir sepanjang sejarah alam semesta? dalam skala tata surya, kehidupan di bumi tak akan lebih lama dari lima milyar (itupun kalau tak ada perang nuklir). Karena selewat itu, matahari mengembang ratusan lebih besat menjadi raksasa merah; permukaannya akan mendekati bumi, sehingga suhu bumi naik dua ribu derajat. Tapi mana tahu di bagian lain jagad ada sejenis makhluk cerdas, atau satu ketika manusia bisa mengungsi ke planet lain.
Dyson meramal, kemungkinan hidup dalam jagad tertutup kelihatannya sangat kecil. Siapa bisa bertahan dalam ruang sebegitu panas?
Begitu juga dalam jagad terbuka. Kita kehabisan sumber energi. Kecuali kalau organisme mau (bisa) merubah struktur, memperlambat kecepatan metabiolisme sehingga menghemat energi jagad yang terbatas. Salah satu cara, hibernasi jangka panjang.
Toh, masih banyak ilmuwan mengambil pandangan sederhana namun belum berani : alam semesta memang diciptakan bagi manusia! buktinya banyak kenyataan (keseimbangan antara gravitasi dengan kecepatan pemuaian jagad misalnya, besar gaya nuklir dll) hanya bisa dijelaskan melalui Prinip Antropik. Nama ini berasal dari kosmolog Brandon Carter, yang berbunyi kira-kira keadaan jagad begitu rupa (selaras) sehingga manusia hadir dengan tenang didalamnya. Bukankah kita tidak mungkin bisa hadir mengamati sitausi yang tidak mendukung kita?

Permukaan dua dimensi ini analog dengan jagad tiga dimensi, yang memerlihatkan dua garis sejajar akan bertemu disatu titik tertutup: tetap sejajar dalam jadag datar dan divergen dalam jagad terbuka

Makanya pula, karena ada banyaj keadaan yang mendukung kita, paling tidak, kalau ada sebagian jagad yang bisa bertahan dari kemusnahan, kehidupan dalam bentuk apapun pasti bisa bertahan. Randall Mc Kee menyebutnya Prinsip Biotok.
Titik acuan kosmologi modern adalah detik awal penciptakan jagad raya kita, Dentuman Besar, dibantu keberanian para fisikawan di bidang fisika zarah. Toh ide ini sebenarnya sudah ada sejak abad 11 diungkapkan oleh seorang penyair dan astronom Persia, Omar Kayyanm. Syair indahnya berjudul The Rubaiyat. Intinya hari pertyama penciptaan sesungguhnya telah emncatat aoa yang akan terbaca pada Perhitungan Terakhir.
Penulis : Karlina Leksono

Baca juga ...  Manusia adalah pelari alami dan penelitian mutasi gen kuno ini mengungkapkan