Kisah Perburuan Awal Epidemi AIDS


Dokter itu melepas kaca matanya. Disekanya keringat di dahinya yang mengeur-ngerut itu. “tak mungkin,” gumannya tak percaya. “bagaimana mungkin kuman yang jinak ini menyebabkan penyakit seberat itu ?”.
Memang, telah enam bulan  ini pasien itu merasa tak enak badan. Nafsu makan tak ada. Berat badannya menurun. Dua hari ini keluhannya malah bertambah. Dadanya terasa sesak dan nyeri. Ia demam. Dokter yang memeriksanya, dengan mudah menemukan diagnosanya. Radang paru – paru, katanya, bisanya tak ada yang aneh. Tapi, ketika kuman yang menyebabkan radang itu ditemukan oleh petugas laboratorium, keanehan pun mulai muncul. Umumnya kuman jenis protozoa yang bernama Pnemocystis carinii ini, tak pernah menyebabkan penyakit pada orang normal. Ia boleh dikata kuman yang jinak. Lalu, mengapa orang ini terserang olehnya? Penelitian intensif diadakan, dan akhirnya yang dikhawatirkan pun ditemukan pasien ini menderita AIDS !
Ini adalah skenario di rumah sakit di Amerika Serikat, di mana AIDS yang diketahui ada sejak tahun 1981 lalu, kini menjadi momok yang menghantui seluruh masyarakat. Ia menakutkan, karena ia penyakit yang baru yang tak diketahui jelas penyebabnya, dan amat misterius. Belum ada yang bisa menyembuhkannya.
Heboh AIDS ini makin menjadi-jadi ketika bintang film tenar, Rock Hudson, juga mengaku tak luput dari cengkeraman mautnya. Ia meninggal sekitar 2 bulan sesudah pengakuannya kepada pers, setelah sempat berobat ke Paris.
Bila hanya dilihat jumlah kasus yang mati saja, selama ini ia sebenarnya tak begitu mengkhawatirkan. Cuman sekitar 5000 orang (tahun 1984). Namun, yang lebih mencemaskan, jutaan orang diam-diam diduga telah terkena, tapi belum tampak gejalanya (mereka disebut silent carrier).
Di Indonesia ia menjadi topik hangat, gencar dihebohkan, setelah Menteri Kesehatan sedikit salah omong mungkin, menyatakan ditemukan kasus AIDS di Bali. Padahal yang dimaksudnya ialah penyakit yang gejalanya mirip AIDS, yaitu ARC (AIDS Related Complex), tapi bukan AIDS. Pernyataan itu sempat diralat. Namun media massa, yang gemar akan berita – berita aneh, terlanjur menyebarluaskan cerita tentang AIDS tersebut. Dan masyarakat pun gempar.

Kisah Perburuan

Apa itu AIDS sebenarnya? Ia adalah singkatan Acquired Immune Deficiency Syndrome, Acquired maksudnya, penyakit itu didapat, bukan karena turunan. Immume defeciency berarti kekurangan kekebalan tubuh. Dan Syndrome dipakai untuk mencakup semua gejala-gejalanya.
“kita pertama kali mendengarnya sekitar Maret atau April 1981,”  ujar Jim Curran, petugas di Pusat Pengendalian Penyakit (Center for Disease Control atau CDC) AS. Sejumlah dokter melaporkan pasien-pasien gay, alias homo, yang terkena radang paru aneh, akibat kuman Pneumocystis carinii. Ada yang tinggal di New York, ada yang di Los Angeles. Semuanya cuma 5 kasus. “saya waktu itu kepala pengendalian penyakit kelamin.” tuturnya. “karena mereka kaum homo, maka saya pikir mungkin saja ditularkan lewat hubungan kelamin.”
Sebulan kemudian ia ikut seminar tentang pengendalian penyakit kelamin di kota San Diego. Disini ia bertemu dengan dokter – dokter lain, yang juga melaporkan menemukan pasien-pasien gay yang terkena radang paru aneh, atau terkena apa yang disebut kanker sarkoma kaposi, sejeni kanker yang sebenarnya tak begitu ganas. Mengingat semua ini, diperkirakan ada suatu penyakit baru yang benar – benar berjangkit. Dan CDC pun mulai bergerak.
Yang menjadi pegangan CDC adalah ilmu epidemiologi. Para ahli epidemiologi, umumnya, mirip detektif : aktif turun ke lapangan mencari tahu tentang penularan penyakit, yaitu siapa, apa, di mana dan kapan penyakit tadi mulai berjangkit. Penemuan mereka ini akan membantu para ahli di laboratorium untuk menfokuskan penelitian ke suatu arah. Sebaliknya, setiap info darimlab bisa pula mengubah arah penyidikan para ahli epidemiologi itu.
“kita lalu memutuskan secara aktif meneliti kaum gay di beberapa kota. Dengan sengaja dipilih kota-kota pusat kaum itu, yakni Los Angeles, Miami dan Atlanta, disamping beberapa kota lain yang tak banyak kaum gay-nya. Kita meminta anak buah kita untuk menghubungi rumah – rumah sakit besar di daerah tersebut, menanyai ahli patologinya, ahli peyakit kulit, ahli penyakit menular untuk mencari apakah ada kasus di sana. Karena radang paru aneh itu biasanya diobati dengan obat pentamidin, kita juga membuka file rumah sakit tentang penggunaan obat ini. Kita menghubungi pusat pendaftaran kanker untuk mencari apakah ada kanker sarkoma kaposi pada pria gay muda. Secara informal, kita juga meneliti 10 kota lainnya. Semua ini terjadi dalam bulan Juni dan Juli 1981,” tutur Harold Jaffe, orang kedua dalam task force itu.
Dari penelitian intensif itu diketahui, bahwa sebenarnya sudah ada yang terkena AIDS sejak 1978 dan 1979, di kota New York. Tapi baru pada tahun 1981 dilaporkan karena kasusnya menjadi banyak.
“lalu kita memutuskan memerlukan wawancara dengan penderita penderita itu, untuk memancing sesuatu dari mereka. Yang dicari : apa yang terjadi pada kaum homoseks pria, yang tak terjadi pada orang lain? Kita perlu banyak informasi.” Maka petugas-petugas epidemiologi mewawancarai 30 orang yang masih hidup dari 100 kasus. Segala sesuatu ditanyakan, perilaku seks, penyalahgunaan obat, kebersihan, gizi, dan riwayat penyakit. Sebelum survey berakhir, ditemukan suatu pertanda zat yang disebut nitrit.
Amil dan butil nitrit adalah suatu zat perangsang, mudah menguap dan sering disalahgunakan dengan cara mengendus-ngendus dengan hidung. Di sana nama popnya disebuy popper. Ia menimbulkan suatu perasaan pusing. Obat bius ini umumnya dipakai oleh kaum gay.nah, apakah mungkin ini penyebab nya? Para ahli epidemiologi tadi juga menemukan bahwa 90 % penderita itu memakai obat -obat bius ini. Maka para petugas menyebar lagi, untuk mencari semua keterangan tentang nitrit. Mereka mewawancarai kaum homoseks, maupun orang normal, untuk mengetahui tentang pemakaian nitrit itu. Mereka masuk ke luar bar, membeli nitrit ditempat-tempat jual beli dan mengirimkan contoh zat itu ke laboratorium. Dari survey kilat ini, diketahui bahwa orang normal jarang menggunakan zat nitrit. Dan juga, para pemakai nitrit itu biasanya punya gaya hidup khas, yakni punya banyak patrnet sex, yang memungkinkan seseorang tertulari penyakit. Jadi nitrit rupanya bukan kemungkinan satu satunya. Apa lagi?
Dimulainya penelitian yang lebih rumit. Dengan apa yang disebut “penelitian terkendali”. Dipilih dua kelompok, yakni kelompok pasien dan kelompok orang homo yang sehat, yang kondisinya (umur dan sebagainya) mirip dengan kelompok pasien itu. Pada bulan oktober dan november 1981, dengan membawa kuesioner setebal 20 halaman, mereka mulai mewawancarai 50 pasien AIDS dan 120 orang homo yang sehat.
Maka info baru mulai muncul. Para pasien tadi, berbeda dengan kaum gay yang sehat, lebih sering menggunakan kokain dan ganja, sering punya partnet sex yang tak dikenalnya di bar bar atau tempat mandi umum, dan biasa melakukan hubungan sex yang menyebabkan lecet lecet, yang menyebabkan mereka terkena sedikit darah dan tinja partnetnya. Hal lain yang muncul: kedua kelompok tadi sama seringnya memakai nitrit. Jadi rupanya nitrit tidak banyak berperan. Tapi yang terpenting ditemukan perbedaan nyata antara dua kelompok tadi. Para pasien itu ternyata jauh lebih banyak punya partnet sex (rata-rata 60 orang pertahun) dibandingkan kaum homo yang tak sakit (25 orang pertahun). Juga, pasien pasien itu lebih sering terkena penyakit yang ditularkan lewat kelamin seperti sifilis, atau hepatitis.
Sementara itu AIDS makin meluas. Dari rumah rumah sakit mulai dilaporkan orang normal, bukan gay, yang terkena AIDS. Mereka umumnya pecandu obat yang sering menyuntik diri sendiri. Dokter dokter juga mulai melaporkan adanya gejala penyakit baru, yakni sindroma kelemahan, yang disertai pembengkakan kelenjar – kelenjar, berat badan berkurang drastis, demam, keringat malam. Dokter tidak menemukan apa-apa, maka mereka dicurigai menderita AIDS tahap awal. Semua laporan ini menyebabkan petugas epidemiologi makin repot lagi.
Lalu muncullah kasus orang Haiti. Di musim gugur tahun 1981 itu, dokter – dokter dari rumah sakit di Miami melaporkan hasil bedah mayat (di AS ini rutin) pada 4 orang imigran dari Haiti yang terkena infeksi kuman aneh (lebih tepat disebut infeksi oportunistik, artinya hanya menyerang bila tubuh lemah). Beberapa bulan kemudian kasus – kasus orang Haiti ini makin banyak. Ini mengherankan. Apa hubungannya dengan orang – orang Haiti yang gay hidupnya sama sekali normal itu? “sulit” kenang Harry Haverkos, petugas yang dikirim untuk menyelediki orang – orang Haitu itu. “saya mencari ahli antropologi, karena saya tak tahu banyak tentang budaya orang Haiti. Saya ingat berbicara dengan kakak dari salah satu kasus. Ia bilang adiknya mti karena kena guna-guna dukun! Pokoknya sulit, karena budaya dan bahasa mereka lain dengan kita.”
Keadaan menjadi makin pelik. Dari dokter Amerika yang pulang dari Haiti, dilaporkan bahwa radang paru pneumosistis dan kanker kaposi memang banyak mengenai penduduk asli di Haiti. Munculnya juga dalam waktu yang hampir sama, akhir tahun 70an atau awal 80an. Haiti adalah salah satu negara tempat orang AS sering berlibur. Mungkinkah kaum gay tertulari disana? Atau sebaliknya mereka yang justru membawa penyakit ke Haiti? Tak ada yang berani mengatakan. Tapi para petugas epidemiologi lalu mencari-cari: apa yang berbeda pada orang Haiti.
Pada awal 1982, jumlah kasus sudah 216 orang, 88 mati, 84 % orang gay, 9 % pecandu obat, 2 % orang Haiti. Cuma 5 % yang wanita. Kalau orang-orang itu menderita penyakit yang sama, tentu ada satu penyebab tunggal. Ada ahli yang masih berpegang pada nitrit, ada yang mengatakan suatu virus baru, atau virus lama yang berubah rupa. Ide ketiga ialah “obat bius + virus”, mungkin nitrit atau ganja melemahkan daya tahan, lalu virus menyerang. Pokoknya simpang siur. Bingung, tapi bagaimana menerangkan kasus orang Haiti? Mereka tak memakai jarum suntik, bukan orang gay dan cukup bersih. Mungkinkah mereka menderita penyakit lain ? para petugas epidemiologi CDC itu condong ke arah kuman sebagai penyebabnya. Dan tak lama kemudian, muncul petunjuk yang memperkuat.
Pada bulan Januari 1982 itu, datang laporan pasien hemofili yang mati terkena radang pneumosistis. Hemofili adalah penyakit darah, darahnya sukar membeku, maka ia terus di transfusi dan memerlukan obat yang menekan daya tahan tubuhnya. Jadi sulit  menyatakan apakah ia terkena AIDS atau karena obat penekan sistem kekelan itu. Lalu datanglah laporan kedua. Direktur CDC bilang kalau sudah ada dua, biasanya akan datang yang ketiga. Betuk juga, kasus demi kasus mulai bermunculan.
Darah yang disuntikkan pada penderita hemofili itu, umumnya bukan darah biasa, tapi sari darah yang mengandung apa yang disebut Faktor VIII. Faktor ini tak dimiliki oleh kaum hemofili itu. Biasanya untuk memperoleh zat ini, darah dari 25.000 donor disaring, dan sarinya yang mengandung faktor itu diambil. Nah, bila pasien hemofili itu terkena, pasti itu disebabkan karena kuman dalam darah itu. Geger, tentu saja. Karena ribuan orang tiap hari perlu ditransfusi untuk pembedahan dan sebagainya. Bila penyakit AIDS tadi ditularkan lewat darah, gawat bukan ?
Keyakinan bahwa AIDS disebabkan oleh virus, atau sesuatu yang menular, mulai menguat. Ia cocok dengan semua data, dapat ditularkan lewat hubungan sex, terutama lewat lecet, ia dapat dibawa oleh jarum yang kotor, ia dapat mencemari banyak hal di tempat yang kebersihannya kurang baik, dan ia dapat ditularkan lewat darah. Ini semua mengingatkan para ahli itu akan virus hepatitis B, penyakit radang hati alias penyakit kuning, yang juga punya sifat serupa. Maka dokter dan para petugas kesehatan di rumah sakit pun mulai berhati hati sekali terhadap pasien AIDS. Dokter – dokter bahkan memakai sarung tangan dua lapis.
Sementara itu, para ahli di laboratorium memikirkan hubungan antara virus dan daya tahan tubuh. Penyakit virus, seperti influensa, memang dapat menurunkan daya tahan tubuh untuk sementara. Virus juga jelas dapat menyebabkan kanker pada hewan. Tapi yang paling aneh dari pasien AIDS ini, mereka punya serum kebal alias antibodi yang normal, atau justru meningkat. Namun, sel darah putih yang disebut sel pembantu-t (helper-t cell), yang membantu antibodi melawan penyakit, sangat sedikit jumlahnya. Lebih gawat lagi, sistem yang menekan antibodi, yang di sebut sel penekan-t, jumlahnya tetap (biasanya penolong-t dan penekan-t bekerja berlawanan, sehingga tercapai keseimbangan).
Dengan keadaan ini, daya tahan tubuh terhadap kuman merosot drastis. Dengan petunjuk-petunjuk ini pula, CDC mengambil kesimpulan : bahwa yang mempunyai risiko tinggi terhadap AIDS adalah kaum homoseks, orang Haiti, penderita hemofili dan penyalahgunaan narkotika dengan suntikan, serta gejala melorotnya daya tahan tubuh dan infeksi oportunistik.
Sementara itu, petugas lab tak tinggal diam. Pada awal tahun 1983 setelah banyak berkeringat, Montagneir dan kawan – kawan di Lembaga Pasteur, paris berhasil menemukan virus AIDS itu. Yaitu virus yang mereka sebut LAV, atau HLTV-III (istilah yang dipakai Gallo, yang kemungkinan besar salah menggolongkannya).
Semua berjalan amat cepat, spektakuler boleh dibilang. Dan kini 4 tahu setelah laporan pertama penyakit sial ini, gambarannya semakin jelas, sekaligus misterius. Bahwa homoseksualitas, berganti ganti partnet seks serta penyalahgunaan narkotika tidak mungkin bisa menimbulkan AIDS tanpa si pelaku terlebih dahulu terinfeksi oleh virus AIDS itu. Dan sebaliknya, infeksi virus itu sama berbahayanya bagi semua, lelaki, wanita maupun anak-anak, tak peduli bagaimana gaya hidup hidup dan kegiatan seks mereka.

Baca juga ...  Asal-Usul Pola Misterius di Permukaan Bulan Berhasil Terungkap

Gejala dan Virus itu

Penyakit – penyakit yang disebabkan virus ini, kini diketahui, jauh lebih luas dari Batasan CDC awalnya. Beberapa minggu setelah infeksi, korban biasanya akan menderita penyakit mirip demam atau influensa. Sebentar saja, lalu sembuh. Ini kemudian diikuti masa tanpa gejala, atau inkubasi, yang bias berlangsung berbulan – bulan bahkan tahunan. Dan dikemudian hari, gejala – gejala maut itu baru muncul : berat badan merosot drastic, demam hebat sebentar – sebentar, diare kronis, radang atau kelainan otak, lymphadenopathy, malaria, pneumonia bakteris dan sebagainya. Infeksi AIDS bahkan bias mematikan tanpa si korban menunjukkan gejala-gejala AIDS. Bukan itu saja, konon orang yang dijangkiti virus sial ini pun tak selalu akan terkena penyakit AIDS. Memang setiap saat selalu muncul berita – berita baru tentang penyakit ini.
Darimana bukti bahwa ia bias menyerang siapa saja? Awalnya dari laporan Natha Clumeck, kepala Bagian Peyakit Menular RS St. Pierre di Brussell. Kata dia pada tahun 1984, pola AIDS yang mewabah di Afrika Tengah, terutama Zaire, sama sekaliberbeda dari pola epidemiologi di Barat. Di Afrika Tengah itu, ia menular melalui hubungan heteroseksual. Penderita pria serta wanita nyaris sama banyaknya, dan terjadi pada kelompok – kelompok masyarakat di luar Batasan risiko tinggi CDC. Mereka bukan homoseks, bukan juga penderita hemofili maupun penyalahgunaan narkotika. Kenapa penyakit ini di sana bias cepat menular? Tak lain karena dibantu oleh keadaan yang padat serta kumuh. Juga dari jarum suntikan, seperti umumnya dinegara – negara berkembang, penyuntikan massal atau vaksinasi biasa dilakukan dengan menggunakan jarum suntik yang itu itu saja.
Masa inkubasi, atau masa tanpa gejala setelah pertama kali infeksi oleh virus AIDS ini, belum diketahui pasti. Ia masih terlalu bayi untuk bias diamati secara langsung. Namun diduga masa inkubasi itu adalah antara 1 sampai 16 tahun, dengan rata-rata 6 tahun, untuk AIDS menurut definisi CDC. Tapi kini kasus – kasus di luar Batasan CDC itu mulai banyak bermunculan. Bahwa virus AIDS pun bias membunuh dengan menyebabkan penyakit otak, tanpa gejala infeksi oportunistik dan tanpa gejala melorotnya kekebalan tubuh. Masa inkubasinya, diduga, berkisar dari 2 sampai 30 tahun. maka akibatnyta nyata ini baru akan diketahui pasti di abad 21 nanti. Runyam !
Yang menambahkan kerunyaman adalah karena kita memang tak tahu banyak tentang virusnya. Ia diduga tergolong dalam lentivirus. Padahal, virus jenis ini, selama ini hanya diketahui menyebabkan penyakit pada binatang (kuda, biri-biri dan domba). Bagaimana bias menyeberang ke manusia? Diduga setelah melewati batas spesies, kemungkinan monyet hijau. Kejadian semacam ini bukan sama sekali baru. Beberapa virus binatangn baru yang dikenal, yang telah menyeberang ke manusia dan menyebabkan epidemi terbatas, adalah virus virus demam lassa, penyakit Marburg, dan demam berdarah ebola. V irus virus ini biasanya terdapat pada binatang – binatang pengerat atau monyet dan tidak berbahaya. Tapi, sekali menyeberang ke spesies lain, bias fatal. Apalagi virus semacam AIDS ini, yang mampu bertahan bertahun – tahun sambal berbiak diri tanpa menunjukkan gejala apapun sampai tahunan, tentu bias berakibat mengerikan. Ia bias menimbulkan bencana pandemic secara diam-diam, terutama di kota – kota atau kampung kumuh serta padat negara negara miskin dengan kedasyatan yang tak terbayang dalam sejarah. Bencana inilah yang dikhawatirkan akan ditimbulkan AIDS.