Desain Rumah Pueblo Bunito, Bangsa Anasazi Memanfaatkan Tenaga Matahari

Betul, katanya bangsa Indian Amasazi, yang tinggal di daerah barat daya Amerika, sudah lebih dulu membangun gedung gedung yang memanfaatkan tekonologi surya. Padahal kitakan baru  baru ini saja lintang pukang ingin membuat gedung demikian, gara gara semakin langkahnya sumber energi, bukan ?.

Bangsa Anasazi berkembang makmur di abad 11 dan 12. Tugas rakyatnya tak banyak, beberapa bertani, beberapa menjaga kamar – kamar upacara adat yang disebut Kivas, lainnya membangun saluran – saluran irigasi dan jaringan jalan-jalan yang menghubungkan kota – kota sekitar dengan 13 “rumah-rumah besar” atau Puebio, didaerah sekitar Lembah Chaco, New Mexico. Salah satu pueblo inilah, disebut Pueblo Bonito, yang menarik perhatian kita, yang menarik perhatian kita, yang mencerminkan pemanfaatan tenaga surya. Dibangun antara tahun 919 dan 1080, “kampung batu” berkamar 800 dengan struktur tunggal ini menghadap ke seatan, dan berbentuk setengah lingkaran. Gedung itu berderet bertingkat mirip amfiteater, bagian luarnya sampai 5 tingkat, menurun bertingkat sampai 1 tingkat dibagian halaman dalam.

Lapisan luar dan dalam dinding dinding Bonito ini dilapisi lapisan pasir batu berisi bata jemuran dan puing – puing. Palang – palang kayu, kuat menopang lantai – lantai atas, dan sejenisnya, pohon – pohon tertentu dilumuri semak-semak dan tanah, dipakai sebagai atapnya.

Tingkatan gedung itu memungkinkan sinar matahari yang rendah di musim dingin diserap oleh dinding-dindingnya, sedangkan sinar matahari yang lebih tinggi akan jatuh pada atap-atapnya yang lebih bersifat mengisolasi.

Matahari memang berperan besar dalam kebudayaan mereka. Konon dinding Pueblo itu membuat bayang – bayang yang bisa dipakai sebagai jam kalender, mencatat titik balik matahari musim dingin dan panas. Begitu pula, lubang – lubang yang dibuat di bagian tenggara, khusus untuk menangkap sinar matahari pada titik  balik musim dingin. Pueblo Bonito bisa dianggap sebagai kalender astronomis yang berhubungan dengan upacara adat dan keagamaan. Dan bentuk gedung itu, secara keseluruhan, merupakan kolektor surya yang efisien, menyerap sinar matahari pada musim dingin, dan menolaknya dimusim panas!. Pada musim dingin, suhu dibagian dalam gedung itu tak banyak berubah, walau diluar sudah merosot. Sedangkan batu terjal yang terdapat `di utara pueblo itu memantulkan panas ke gedung itu jauh setelah matahari terbenam.

Baca juga ...  Mengapa Manuskrip Voynich tidak terpecahahkan ?

Masih penasaran, seorang kemudian menggunakan komputer untuk menganalisa pengaruh sinar matahri pada dinding gedung. Ternyata, sebagaian permukaan dinding yang melengkung itu menghadap ke matahari setiap saat, sehingga selalu menerima sejumlah radiasi, terutama di musim dingin.

Hebat ? luar biasa. Arsitektur gedung kuno ini, kini, hangat di perdebatan dikalangan arsitek AS, yang terkagum – kagum dengan ide pemanfaatan energi surya mereka.